Kabupaten
Muna merupakan salah satu kabupaten tertua yang menjadi bagian awal
terbentuknya propinsi Sulawesi Tenggara. Berdasarkan sejarah, ada empat
kabupaten yang menyokong awal berdirinya Propinsi Sulawesi Tenggara yakni,
Kabupaten Kendari (Kabupaten Konawe saat ini), Kabupaten Kolaka, Kabupaten
Buton dan Kabupaten Muna. Akan tetapi jika kita melihat perkembangan kemajuan
dari empat kabupaten tersebut , kabupaten Muna sangat jauh tertinggal dibanding
tiga kabupaten tua lainnya. Dan sangat mirisnya lagi perkembangan Muna
dilambung oleh kabupaten-kabupaten baru seperti Kolaka Utara ataupun Wakatobi.
Memang
dari segi sumber daya alam, Muna kalah dibanding Buton yang kaya akan aspalnya,
Kolaka dan Konawe utara yang kaya akan nikelnya serta Wakatobi yang terkenal dengan destinasi
wisatanya. Namun perlu kita ketahui,
semelimpah apapun kekayaan alam suatu daerah jika tidak dibarengi dengan sistem
pengolalaan yang baik maka hasilnyapun akan tidak baik dan sebaliknya,
seterbatas apapun sumber daya alam suatu daerah jika sistem pengelolaannya baik
maka hasilnya akan baik pula. Ambil contoh, negeri Jepang yang merupakan
negeri dengan sumber daya alam yang terbatas namun karena sistem
pemerintahannya begitu sehat sehingga negeri Jepang mampu menjadi salah satu
negara maju didunia. Oleh karenanya, Semua bergantung pada sistem
pengelolaannya, dan yang berkapasitas menentukan sistem di Muna adalah para pejabat
Muna yang dikepalai seorang Bupati.
Bukan sebuah rahasia lagi, betapa
bobroknya sistem pemerintahan di Muna.
Budaya KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ) tumbuh subur di daerah ini,
jadi tidaklah heran banyak para birokrasi pemerintahan yang bekerja dengan
tidak professional. Hal ini dikarenakan sistem perekrutan PNS yang tidak sehat.
Imbasnya, para calon PNS yang diloloskan atau diterima bukan dilihat dari
seberapa baik calon PNS tersebut dalam mengikuti tahap seleksi melainkan
seberapa mampu dia membayar kepada para penyeleksi atau seberapa dekat calon
PNS tersebut dengan para pejabat di Muna. Sepertinya hal seperti ini tidak hanya
terjadi di Muna melainkan hampir di seluruh daerah Indonesia. Untungnya di era
Presiden Jokowi sistem pengawasan penerimaan PNS sedikit diperketat sehingga
bisa meminimalisir kecurangan-kecurangan yang sebelumnya sering terjadi.
Kita
kembali kesejerah Muna, berdasarkan isi buku yang berjudul “Sejarah Perkembangan Islam Sulawesi Tenggara”
penerbit Universitas Muhammadiyyah Kendari tahun 2009 tertulis, ada falsafah hidup yang dijunjung tinggi
orang muna dimasa lampau dan falsafah
hidup ini selalu dijadikan sumpah jabatan dalam pelantikan para pejabat
kerajaan Muna. Falsafah hidup ini berbunyi:
Hansuru-hansuru mbadha sumano
konohansuru liwu
Hansuru-hansuru liwu sumano kono
hansuru adhati
Hansuru-hansuru adhati sumano kono
hansuru sara
Hansuru-hansuru sara sumano kono
hansuru Agama
Berdasarkan Falsafah hidup orang muna di
atas , kita dapat menangkap bahwa orang Muna dimasa lampau begitu menjunjung
tinggi nilai agama (Islam). Coba kita bandingkan dengan masyarakat Muna
sekarang ini, Apakah nilai Agama (Islam) masih dijunjung tinggi ? Jawabannya
sudah pasti, masyarakat Muna sekarang ini sebagian besar sudah tidak
menjalankan falsafah hidup di atas. Jadi janganlah heran, jikalau para pelaku
birokrasi pemerintahan di Muna menjalankan sistem yang tidak sehat. Jikalau
memang para pejabat masih menjunjung tinggi nilai agama, kenapa praktek
suap-menyuap masih marak di kalangan para pejabat? bukankah Islam melarang
perbuatan suap-menyuap. Jikalau memang para pejababat kabupaten Muna masih
menjalankan pesan para leluhur dan menjunjung tinggi nilai agama. Kenapa
disetiap pemilihan umum , para caleg ataupun calon bupati gemar melakukan
politik uang (menyuap rakyak agar dipilih) ? Sekali lagi bukankah yang demikian
tidak dibenarkan dalam Islam.
Maka
dapat kita simpulkan akar permasalahan yang menjadikan kebobrokan sistem serta
menghambat kemajuan Muna adalah karena masyakatnya telah melupakan nilai budaya
yang telah diwariskan oleh para leluhur Muna. Jadi agar Muna dapat menuju ke
arah yang lebih baik, warisan nilai budaya Muna harus ditanamkan kembali pada
setiap orang Muna. Dan perubahan itu tidak mesti dilakukan oleh para pejabat
lebih dulu melainkan kita dapat memulainya lebih dulu karena kita sendiri ikut
terlibat pula dengan sistem di Muna. Jika semua pelaku sistem di Muna sehat,
otomatis sistem yang sehat pula akan tercipta. Seperti yang dikatakan oleh
Mahatma Gandi : “Jika kau ingin mengubah dunia maka ubahlah dirimu” . Untuk
itu, Mari kita tanamkan kembali warisan nilai budaya Muna pada diri kita demi
Muna yang lebih baik. [UHOBICARA]
Penulis
: La Ode Abdul Wahid


0 Komentar