![]() |
| kendari, 12 november 2016 |
Menuntut ilmu pada perguruuan tinggi adalah impian semua
anak, bukan hanya mencari ilmu, pada perguruan tinggi seorang anak bisa
menemukan dan membangun potensi diri.
Banyaknya jurusan-jurusan yang ada pada suatu perguruan tinggi kadang kala
membuat kita berpiki ‘kira-kira mana jurusan yang pas untuk saya dan mana yang
kira-kikra bisa cepat dapat kerja kalau selesai nanti’’. Namun Persoalan
jurusan mungkin itu tidak terlalu penting, yang penting adalah bagaimana cara
menguasai ilmu dijurusan agar kelak bisa
lulus diperguruan tinggi dengan IPK yang tinggi, Sehingga bisa menunjang dalam
mencari pekerjaan dengan modal ilmu dan ijazah kelak.
Faktanya, tingginya uang kuliah tunggal (UKT) menjadi momok
menakutkan bagi para orang tua dan anak berprestasi namun kurang mampu, karena
cita cita mereka untuk mendapatkan prndidikan tinggi harus terkubur
hidup-hidup.
Pada tahun 2014 di universitas halu oleo (UHO), penetapan
jumlah uang kuliah tunggal di lakukan dengan cara, pihak kampus turun langsung
kerumah-rumah mahasiswa demi mensurvei dan mendata masing-masing keluarga
mahasiswa, dengan maksud agar uang kuliah tunggal (UKT) bisa diseuaikan dengan
kondisi ekonomi keluarga mahasiswa tersebut. Namun kenyataannya adalah banyak
mahasiswa yang merasa sangat berat
dengan uang kuliah tunggal (UKT) yang harus mereka bayar perbulan, sebut saja
A.S, dia terpakasa berhenti kuliah karena tidak bisa melunasi UKT nya, dan masi
banyak lagi mahasiswa-mahasiswa malang yang bernasib sama dengan A.S.
Untuk membantu masarakat yang kurang mampu dan
mempunyai keinginan besar untuk kuliah,
pemerintah mengadakan bantuan pendidikan miskin berprestasi (Bidik misi). Dan
terbuka selebar-lebarnya bagi anak tidak mampu namun berprestasi untuk dapat merasakan
bangku perkuliahan (terutama untuk perguruan tinggi negri). Sesuai dengan misi
bidik misi yaitu:
1.
Menghidupkan harapan bagi masarakat tidak mampu
dan mempunyai potensi akademik baik untuk dapat menempu pendidikan sampai ke
jenjang pendidikan tinggi;
2.
Menghasilkan sumber daya insani yang mampu
berperan dalam memutus mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masarakat
Tetapi bidik misi yang seharusnya di perlakukan untuk
mahasiswa miskin dan berprestasi ini, di UHO malah tersalur keorang-orang yang
tidak layak untuk mendapatkan bantguan tersebut, kita sebut saja L.M, oarang
tua L.M adalah seorang PNS, namun dia mendapatkan bantuan bidik misi, semntara
si L.F yang orang tua laki-lakinya telah tiada, hidup bersama adik dan ibunya
yang mempunya pekerjaan sebagai seorang pembantu rumah tangga, tidak mendapatkan bantuan tersebut.
Sala seorang mahasiswa A.W mengaku bingung dengan bantuan
bidik misi yang dia dapatkan, sebelum mendapatkan bantuan bidik misi, uang
kuliah tungga(UKT) yang harus dia bayar per semester adalah 1 juta, setelah
mendapatkan bantuan bidik misi, uang kuliah tunggal (UKT) nya naik menjadi 2,4
juta. Jadi setiap uang bantuan yang dia terima telah terlebih dahulu terpotong
2,4 juta sebelum sampai kepada dia.[UHOBICARA]


0 Komentar